Kamis, 07 Juli 2011

Teori linguistik sistematik

Aliran ini mempunyai banyak nama, seperti teori linguistik sistematik, teori linguistik sistemik (systemic linguistics), atau teori linguistik fungsional, apapun sebutan yang ada, teori ini tidak bisa lepas dari seseorang yang bernama Michael Alexander Kirkwood Halliday (MAK Halliday) yang telah menemukan dan mengembangkan teori kebahasaan tersebut. Ia merupakan salah seorang murid dari Firth, seorang ahli bahasa yang mengembangkan aliran Firth, guru besar di Universitas London, dimana Halliday belajar.
Sebagai penerus Firth dalam bidang kemasyarakatan bahasa serta pada sebuah karangannya Categories of the Theory of Grammar, Halliday mengembangkan suatu teori linguistik, yang mula-mula dikenal sebagai Neo-Firthian Linguistics atau Scale and Categories Linguistics. Namun dikemudian waktu, muncul nama baru untuk teori ini, Systemics Linguistics (dalam bahasa Indonesia disebut Linguistik Sistemik). Karya besar pertamanya tentang masalah tata bahasa adalah "Kategori dari teori tata bahasa", yang diterbitkan dalam jurnal Firman pada tahun 1961 . Dalam tulisan ini, ia berpendapat untuk empat "kategori fundamental" bagi teori tata bahasa: "Unit", "struktur", "kelas" dan "sistem". Kategori-kategori ini menurutnya adalah "dari urutan tertinggi abstraksi", tapi dibela seperti yang diperlukan untuk "memungkinkan account koheren tentang apa tata bahasa dan tempatnya dalam bahasa" Dalam mengartikulasikan unit 'kategori', Halliday mengusulkan gagasan tentang 'skala peringkat' a. Unit tata bahasa membentuk "hierarki", skala dari "terbesar" ke "terkecil" yang diusulkan sebagai: "kalimat", "klausul", "kelompok / frase", "kata" dan "morfem" .

Pokok-pokok pandangan yang terdapat dalam teori Systemic Linguistics (linguistik sistemik) adalah sebagai beriukut:
1. Systemic Linguistics memberikan perhatian penuh pada segi kemasyarakatan bahasa, terutama fungsi kemasyarkatan bahasa itu sendiri dan bagaimana fungsi kemasyarakatan tersebut terlaksana dalam bahasa.
2. Systemic Linguistics memandang bahwa bahasa adalah “pelaksana”. Teori ini mengakui pentingnya perbedaan langue dari parole (dalam hal ini seperti apa yang telah dikemukakan oleh Ferdinand de Saussure). Parole sendiri mempunyai arti sebagai perilaku kebahasaan yang sebenarnya, sedangkan Langue adalah jajaran pikiran yang telah dipilih sendiri oleh seorang penutur bahasa.
3. Systemic Linguistics lebih mengutamakan pemberian ciri-ciri dari bahasa tertentu beserta variasi-variasinya, teori ini kurang tertarik pada semestaan bahasa.
4. Systemic Linguistics mengenal adanya gradasi atau kontinum. Hal tersebut bisa terjadi dikarenakan seringkali tidak adanya batas butir-butir bahasa yang jelas. Misalnya tentang bentuk-bentuk kalimat yang gramatikal atau yang tidak gramatikal. Seperti yang tergambar dalam bagan (i), melainkan lebih rumit seperti yang terlihat pada bagan (ii).


i
tidak gramatikal

Skala
Kegramatikalan

gramatikal





ii tidak gramatikal
lebih janggal

gramatikal
(tidak biasa)

kurang janggal
Skala
Kegramatikalan kurang biasa

gramatikal
(biasa)

lebih biasa


5. Systemic Linguistics menggambarkan tiga tataran utama bahasa, terlihat pada bagan (iii).

iii

SUBSTANSI
FORMA
SITUASI
Substansi fonik
Subtansi grafis Fonologi
Grafologi Leksis
Gramatika konteks Tesis
situasi langsung situasi luas

Yang dimaksud substansi dalam bagan tersebut adalah bunyi yang diucapkan ketika berbicara, dan lambang yang digunakan ketika menulis. Substansi bahasa lisan disebut substani fonis, sedangkan substansi bahasa tulis disbut substansi grafis. Forma adalah susunan substansi dalam pola yang bermakna. Forma tersebut dibagi dalam dua kelompok, yaitu: pertama, leksis yaitu menyangkut butir-butir bahasa dan pola butir-butir tersebut terletak. Kedua, gramatika, mengenai hal yang berhubungan dengan kelas-kelas butir bahasa, dan pola-pola tempat terletaknya butir bahasa tersebut. Situasi meliputi tesis, situasi langsung, dan situasi luas. Tesis suatu tuturan adalah apa yang sedang dibicarakan. Situasi langsung adalah situasi ketika suatu tuturan benar-benar diucapkan oleh seseorang, sedangkan situasi luas suatu tuturan menyangkut tentang semua hal mengenai pengalaman pembaca atau penulis yang mempengaruhinya supaya memakai tuturan yang diucapkan atau dituliskan.
Ada dua tataran bahasa lagi yang berfungsi menghubungkan tataran-tataran utama. Fonologi, yang menghubungkan substansi fonik dengan forma, dan yang berfungsi menghubungkan substansi grafis dengan forma adalah grafologi. Sedangkan konteks sendiri menghubungkan situasi dengan forma.






Daftar pustaka
Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta. Rineka cipta
file:///C:/Documents%20and%20Settings/TinBers/My%20Documents/Downloads/METAHODHOS%20BLOGSPOT%20%20ALIRAN-ALIRAN%20LINGUISTIK%20DI%20BARAT%20DAN%20PERKEMBANGAN%20LINGUISTIK%20DI%20INDONESIA.htm

Tidak ada komentar:

Posting Komentar