Mungkin banyak yang berpendapat jika hidup lebih lebih lama, seratus, dua ratus, bahkan seribu tahun waktu yang dapat dijalani, maka hidup akan menjadi indah. Tidak sedikit juga manusia berpendapat jika hidup yang indah adalah hidup dengan mempunyai serta mampu melakukan apa yang diinginkan. Namun bagaimana jika sisa hidup yang lama tadi hanya diisi dengan kesedihan, penyesalan dan hal lain. Dan kekuasaan tersebut menimbulkan rasa gelisah serta permusuhan dengan sahabatmu sendiri? Masih inginkah untuk melaluinya?
“Apa rencanaMu Tuhan untukku? mengapa Kau tega memperlihatkan semua kesedihan ini, apakah semua yang kulakukan pada muda dulu tidak cukup? hanya rasa penyesalan, keputusasaan yang hambaMu lihat saat ini! Aku tidak sanggup...”
Pierre berteriak dengan hati yang bingung, dan tidak tahu akan bertindak apa.
Itulah penyesalanku.....
Pierre, lebih lengkapnya Jean Pierre Linux merupakan sosok yang sudah berumur seratus tiga puluh tujuh tahun hidup. Semasa hidupnya ia sering bergelut dengan batinnya, ingin mendapatkan kehidupan yang sangat indah dan panjang. Ia berpendapat kehidupan akan lengkap jika mempunyai umur yang panjang dan bisa melihat dunia lebih lama lagi.
Namun hal itu ditentang oleh sahabatnya, Martin De Leur, baginya kehidupan akan indah jika ia bisa melakukan apapun sesuai dengan kehendaknya. De Leur merupakan kerabat dari Raja Louis XVII, oleh sebab itu ia dapat bertindak seenaknya.
“Apa yang akan kamu lakukan jika kau terlibat dalam masalah seperti ini, Martin?”
“Masalah apa?” “Masalah kehidupan ketika apa yang kamu inginkan tidak terpenuhi.”
“itu mudah bagiku, aku hanya mengatakannya kepada Raja Louis XVII dan ia akan membantuku, aku sudah merasakan kekuasaan yang ia miliki, wanita, harta, emas, dan nama baik bisa dalam genggamanku.” penjelasan dari De Leur.
“Kalau begitu, kamu bisa membantuku untuk mendapatkan Eliza, seorang gadis anak dari pelayan Raja Louis?” “bukan masalah bagiku.” jawab De Leur singkat.
Tidak butuh satu bulan untuk membuat hal tersebut menjadi kenyataan, Pierre menikahi Eliza atas bantuan dari De Leur. Pada kehidupan De Leur, ia mendapatkan banyak harta, wanita jabatan, dan hal-hal lainnya. Lelaki itu sangat senang akan dunia ini, kepemimpinan Raja Louis XVII yang sangat memanjakan dia, namun ada hal yang menganjal dalam benak mereka.
“Aku kurang puas, Pierre!!” Martin memulai percakapan.
“Apa yang tidak kamu terima? Aku rasa kamu sudah memiliki segalanya di dunia ini, harta, wanita, jabatan, dan segalanya!! Apa lagi yang kamu ingin pinta dari Raja hah!?” Pierre kesal.
“Ada sat hal lagi yang ingin ku miliki, Jabatan raja yang dikuasai oleh Louis XVII, ia mempunyai apa yang tidak aku punya, yaitu kekuasaan mengatur dunia ini. Bayangkan jika aku memiliki jabatan yang bisa mengatur seluruh dunia? Apakah kamu tidak akan senang?”
“Bagus sekali idemu saudaraku.” Namun Pierre juga berpikir, mengapa bukan aku saja yang memerintah? mengapa harus Martin?
Mereka sepakat untuk saling membantu dalam menjalankan misi licik tersebut. Dengan berbagai cara kedua sahabat itu menunjukkan sikap yang ramah kepada Raja Louis XVII, dan tidak lama Martin De Leur menjabat sebagai menteri pertahanan serta Jean Pierre Linux memperoleh menteri urusan luar negeri. Jabatan yang sangat memungkinkan untuk bertindak lebih tanpa harus mendapatkan izin terlebih dahulu dari Raja.
De Leur dan Linux sepakat untuk bernegosiasi dengan bangsa Slavia, mereka berpendapat jika bangsa ini dapat mengalahkan pemerintahan Raja Louis XVII dan membantu mereka menjadi penguasa Prancis.
“Perkenalkan saya Martin De Leur dan ini sahabat saya Jean Pierre Linux, kami berdua adalah orang penting dalam pemerintahan Raja Louis, kami ingin bernegosiasi tentang pemerintahan Louis dengan anda.”
“apa maksudmu?” “Saya ingin anda menghancurkan Prancis!”
“Anda?? bukankah anda orang perancis? Perancis adalah bangsa yang kuat, kami tidak berurusan sengan mereka.” Jawab Roman Tsayevich Pavlushin, penguasa Slavia.
“Oleh sebab itu kami datang kesini, tujuan kami untuk memberitahukan kepada anda bagaimana mengalahkan bangsa kami.” tungkas Jean Pierre Linux.
“kami akan memberikan rahasia kami, tapi dengan satu syarat jika kalian berhasil mengalahkan Prancis, maka kamilah yang akan menjadi penguasa.”
“Baiklah saya setuju dengan anda.” dengan itu kesepakatan tercapai.
Serangan bangsa Slavia akan akhirnya dimulai, mereka mengikuti petunjuk yang diberikan oleh Martin dan Pierre, akhirnya Raja Louis XVII dapat dikalahkan dengan mudah. Kemenangan Slavia membuat dua sahabat itu menjadi gembira, mereka berpikir jika akan menjadi penguasa Perancis. Akan tetapi...
“Tangkap Martin De Leur dan Jean Pierre Linux sekarang!” perintah Roman kepada pasukannya.
Merekapun ditangkap dan dibawa ke tengah kota, dimana sisa orang Perancis sedang mengalami siksaan. Mereka langsung diangkat ke atas penggung yang biasa dijadikan sebagai temapt penyiksaan.
“mengapa kami dibawa?? bagaimana dengan perjanjian kita Roman!” teriak Martin dari atas panggung.
“Inilah orang yang telah membuat kami menang atas bangsa kalian, seorang pengkhianat!! tidakkah ini membuat anda sekalian menjadi geram? apa yang akan kalian lakuan terhadap kedua pengkhianat ini?” teriak Roman kepada orang-orang Perancis yang tengah disiksa sambil memperkenalkan Martin De Leur dan Jean Pierre Linux.
Seketika itu juga orang yang Perancis yang mendengar datang menghampiri mereka berdua, lalu meludahi dua pengkhianat tersebut. Pada hari itu jam tiga siang Martin mendapatkan hukuman gantung, “Rajamu saja kamu khianati, apalagi saya yang merupakan orang luar dari bangsamu, suatu saat kau pasti akan mengkhianatiku, oleh sebab itu kau harus mati Martin, dan untukmu Pierre, kau akan kubiarkan hidup, namun dipenjara selama hidupmu, agar kau dapat melihat bagaimana caraku menyiksa bangsamu ini.”
Martin akhirnya digantung, akan tetapi dari semua orang Perancis yang ada di sana, hanya Jean Pierre yang menangis, dan ia pun di bawa ke penjara.
“Apa rencanaMu Tuhan untukku? mengapa Kau tega memperlihatkan semua kesedihan ini, apakah semua yang kulakukan pada muda dulu tidak cukup? hanya rasa penyesalan, keputusasaan yang hambaMu lihat saat ini! Aku tidak sanggup...”
Pierre berteriak dengan hati yang bingung, dan tidak tahu akan bertindak apa. Di dalam penjara ia stiap hari melihat bagaimana mereka bangsa Slavia menyiksa Perancis, bangsanya sendiri yang telah ia khianati, Pierre hanya bisa menangis..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar