Banyak yang mengatakan bahwa linguistik pada masa Romawi merupakan linguistik lanjutan dari masa sebelumnya, masa Yunani. Hal ini dikarenakan sejaln dengan jatuhnya Ynani dan bangkitnya kerjaan Romawi, dan ada pula yang menyebutkan bila orang Romawi mendapatkan ilmu mengenai kebahasaan berasal dari bangsa Yunani.
Pada masa Romawi terdapat dua tokoh ketatabahasaan (linguis) yaitu
1. Varro dengan karyanya De Lingua Latina
2. Priscia dengan karyanya Institutiones Grammaticae
Varro (116 S.M – 27 S.M)
Di dalam bukunya yang berjudul De Lingua Latina, ia masih mengangkat topik yang sama seperti yang diperdebatkan mengenai Analogi dan Anomali yang terjadi pada zaman Stoik di Yunani. Buku yang terdiri dari 25 jilid ini terdiri dari bagian-bagian yang membahas bidang-bidang yang berbeda, seperti etimologi, morfologi, dan sintaksis.
a. Etimologi
Merupakan salah satu cabang ilmu dari linguistik. Cabang ilmu mempelajari bagaimana asal-usul kata dan menyelidiki arti kata. Varro mempunyai catatan bagaimana kata berubah bunyi dari zaman ke zaman dan juga perubahan makna, contoh duellum menjadi belum yang mempunyai arti ‘perang’, kata tersebut mengalami perubahan bunyi. Contoh perubahan makna yaitu kata hostis, yang bermula mempunyai arti ‘orang asing’, berubah makna menjadi ‘musuh’. Sejarah juga mencatat jika etimologi yang yang diungkapkan oleh Varro mempunyai kekurangan, yaitu ia menganggap bila bentuk kata dari bahasa Latin dan Yunani sama, merupakan kata pinjaman langsung. Padahal banyak kata Latin atau yunani yang hatus direkonstruksikan kembali pada satu bahasa purba atau bahasa proto yang lebih tua.
b. Morfologi
Merupakan cabang ilmu linguistik yang mempelajari tentang kata dan pembentukan kata tersebut. Menurut Varro, kata ialah bagian dari ucapan dan tidak dapt dipisahkan lagi dan merupakan bentuk minimum. Menurutnya pula ada kata-kata dalam bahasa Latin ada kata-kata yang terjadi secara Analogi, dan ada pula yang terjadi secara Anomali. Sehingga terjadi bentuk reguler dan bentuk tidak reguler. Dalam penyusunan kata, ia mengelompokkan kata-kata menjadi 4 kelompok :
• Nomen (Kata benda), termasuk kata sifat yakni kata yang berinfleksi pada kasus.
• Verbum (Kata kerja), yaitu kelas kata yang membuat suatu pernyataan, yang berinfleksi pada ‘tense’.
• Partisipel, yaitu kelas kata yang menghubungkan (dalam sintaksis kata benda dan kata kerja), berinfleksi pada kasus dan ‘tense’.
• Adverbium (penghubung), yaitu kelas kata yang mendukung (bawahan dari kata kerja), yang tudak berinfleksi.
Bila dalam bahasa Yunani terdapat lima kasus dalam ketatabahasaannya, maka menurut Varro dalam bahasa latin terdapat enam buah kasus , yaitu :
1. Nominativus, yaitu kasus yang berbentuk primer atau pokok.
2. Genetivus, yaitu kasus yang menyatakan kepunyaan.
3. Dativus, yaitu bentuk kasus yang menyatakan menerima.
4. Akusativus, yaitu bentuk yang menyatakan menerima.
5. Vokativus, yaitu bentuk yang mengenai sapaan atau panggilan.
6. Oblativus, bentuk yang menyatakan asal.
Mengenai perubahan bentuk kata yang berkenaan dengan kategori, jumlah, kasus, dan jenis atau dikenal dengan deklinasi, Varro membedakan menjadi dua macam deklinasi yaitu deklinasi yaitu deklinasi naturalis dan deklinasi voluntaris.
• Deklinasi naturalis adalah perubahan yang bersifat alamiah, sebab perubahan yang dialami mengalami proses perubahan dengan sendirinya dan sudah berpola. Deklinasi ini menghasilkan kata-kata yang bersifat reguler dan biasanya para pengguna bahasa sudah mengetahui bentuk kata setelah deklinasi tanpa ragu-ragu.
• Deklinasi voluntaris adalah perubahan secara morfologis bersifat selektif dan manasuka. Deklinasi ini menghasilkan kata-kata yang bersifat ireguler, dan para pengguna abahsa harus sadar bagaimana proses deklinasi kata tersebut.
Priscia
Institutiones Grammatica , buku berisi 18 jilid dimana 16 jilid membahas morfologis dan 2 jilid lainnya membahas sintaksis adalah karya Priscia, mempunyai peranan penting dalam sejarah studi bahasa karena :
• Merupakan buku terlengkap bahasa Latin yang ditulis oleh pembicara aslinya (native speaker).
• Teori-teori ketatabahasaan yang ada di dalamnya merupakan dasr-dasar utama pembicaraan bahasa secara tradisional.
Dan sebab karena itu buku ini menjadi refrensi untuk menulis buku mengenai ketatabahasaan bahasa-bahasa lain di Eropa atau di luar Eropa. Sebagai buku tata bahasa tradisional, maka buku ini menggunakan semantik atau makna kata sebagai tolak ukur utana mengenai pembahasan bahasa.
Bidang-bidang yang dibahas di dalam buku ini adalah:
1. Fonologi, pertama dalam fonologi hal yang dibahas adalah tulisan atau huruf yang disebut litterae. Litterae sendiri mempunyai arti sesuatubagian terkecil dari bunyi yang dapat dituliskan. Sedangkan nilai bunyi itu sendiri disebut potestas.
Bunyi-bunyi dapat dibedakan menjadi 4 macam:
a. Vox artikulata, bunyi yang diucapkan untuk membedakan makna.
b. Vox martikulata, bunyi yang tidak diucapkan untuk memberikan makna.
c. Vox litterata, bunyi yang dapat dituliskan bai yang artikulata, maupun maartikulata.
d. Vox illiterata, bunyi yang tidak dapat dituliskan.
2. Morfologi, mengenai dictio atau kata. Dictio adalah bagian terkecil dari ujaran dan harus diartikan terpisah dalam makna sebagai satu keseluruhan.
Dalam hal ini kata-kata dibedakan menjadi 8 jenis yang disebut partes orationis.
a. Nomen, termasuk kelas kata benda dan kelas kata sifat menerut klasifikasi sekarang.
b. Verbum, kelas kata yang menyatakan perbuatan atau dikenai perbuatan.
c. Partisipium, kelas kata yang selalu berdevirasi dari verbum, mengambil kategori verbum dan nomen.
d. Pronomen, yaitu kelas kata yang dapat menggantikan nomen.
e. Adverbum, kelas kata yang secara sintaksis merupakan atribut dariverbum.
f. Praepositio, kata-kata yang terletak di depan bentuk kata yang berkasus.
g. Interjectio, kelas kata yang menyatakan perasaan, sikap, dan pikiran.
h. Conjuctio, kelas kata yang berfungsi untuk menghubungkan kata-kata dari kelas kata yang lain untuk menyatakan hubungan sesamanya.
3. Sintaksis
Dalam bidang ini, hal yang dibicarakan adalah oratio, yaitu tata susun kata yang berselaras dan menunjukan bahwa kalimat tersebut selesai. Buku ini juga menunjukkan bahwa sebuah kata dapat menjadi sebuah kalimat penuh, misalnya dalam sebuah kalimat jawaban singkat.
Sehingga dapat dikatakan bahwa buku Institutiones Grammaticae tealah menjadi dasar tata bahasa Latin dan filsafat zaman pertengahan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar