Sabtu, 05 Februari 2011

kalimat pamungkas


“Aku cinta kamu.” Itulah kalimat yang ingin aku katakan kepada Morie. Kalimat pamungkas yang berasal dari luapan sebuah rasa yang menggelora dalam hati. Memang kalimat itu harus didahului oleh kalimat-kalimat yang lain, kalimat yang akan menjadikan suasana kedekatan terjalin.
Pada dua bulan lalu aku berkata kepadanya “Siapa nama kamu?” lalu diikuti dengan kalimat yang lain “Senang bertemu dengan mu.”.
Aku dan Morie semakin sering bertemu, semakin sering berbincang, mengenai hal-hal kecil seperti  hasil sebuah pertandingan sepak bola hingga mengenai hal-hal yang cukup berat yaitu bahasa asing yang aku dan dia mempelajarinya dan memaksa aku untuk kembali mengingat-ingat tentang bahasa asing tersebut.
“Kamu ternyata lucu ya mor.” pada tiga puluh tujuh hari yang lalu kalimat yang keluar dari mulutku dan disertai oleh senyuman kecil yang keluar dari wajahku. Itulah kalimat sanjunganku yang pertama aku keluarkan dari mulutku untuk morie.
Waktu terus mendukung aku dan Morie terus bersama, dan sang waktu juga yang seakan-akan menjadi orang ketiga yang menjodohkan aku dengan Morie.
Dua puluh empat hari yang lalu “Aku suka gaya pakaianmu Mor.”
Kalimat itu yang keluar, iya kalimat itu yang terucap, namun bukan itu yang ingin aku utarakan pada Morie, aku ingin mengutarakan kalimat yang lebih dari itu, kalimat pamungkas yang ingin aku utarakan namun aku ragu.
Dan pada hari yang kedelapan belas yang lalu aku berucap “Aku suka dengan sifat kamu.” Dan hanya itulah keberanian yang aku miliki pada saat itu. Keberanian yang belum cukup untuk mengucapkan kalimat yang ingin aku sampaikan dan aku masih ingin mengucapkan kalimat yang lebih dari itu.
Morie, seorang gadis yang sangat ramah kepada semua orang, berperawakan putih, tinggi, serta mata yang cukup sipit. Ia juga  berasal dari keluarga yang kaya.
Aku benar-benar takut. Ya, ini perasaan takut bukan perasaan ragu untuk mengungkapkannya. Aku ini hanya seorang bujang hitam dengan muka yang kotak dengan tingkah laku yang tidak displin serta pendek. Aku takut Morie akan menertawakanku atau bahkan akan menjauhiku jika aku mengutarakan kalimat pamungkas itu.
Dan dengan segala pertimbangan mengenai cintaku kepada Morie, aku memilih mengurungkan niat untuk mengutarakan kalimat pamungkas itu serta perasaan cinta yang ku miliki kepada Morie akan ku simpan sendiri tanpa Morie mengetahui yang ada di dalam hati, ya, di dalam hatiku. Tidak mungkin Morie mencintaiku, menyukai diriku saja sudah hampir mustahil, aku ini hitam dan bermuka kotak serta tidak mempunyai apa-apa untuk dibanggakan, berbeda dengan Morie yang merupakan gadis lucu dan kaya. Aku memutuskan untuk menjauh darinya dan membiarkan cinta terkurung dalam hati.
Namun tiga hari yang lalu Morie mengajakku untuk makan siang bersama, ada yang ingin Morie sampaikan padaku.
Hari ini, hari kapan aku dan Morie berjanji untuk makan siang bersama. Morie menunjuk sebuah meja yang terletak di pojok ruangan kafe yang Morie dan aku kunjungi. Suasana kafe yang romantis dengan alunan musik blues yang kental sehingga membuat para tamu yang datang tidak ingin pulang.
Aku dan Morie duduk. Terbesit dalam pikiran bahwa ini adalah saat yang tepat untuk mengutarakan kalimat pamungkas itu, namun aku terlanjur mengurungkan niat untuk mengutarakan kalimat itu. Jam di tanganku meunjukkan 14.13 dan hidangan yang dipesan telah sampai ke meja, aku dan Morie memakannya dengan segera.
Setelah selesai makan aku segera bertanya kepada Morie “Apa yang ingin kamu bicarakan?”
“Banyak hal yang ingin aku sampaikan, namun aku bingung harus memulainya dari mana. Aku takut perkataanku akan membuatmu marah.”
“Katakan saja apa yang ingin kamu katakan.” Sambil wajahku senyum kepadanya. Padahal aku sebenarnya tidak berani mengatakan apa yang ingin aku katakan.
Dalam pikiranku sedang bergumul dengan keinginanku untuk menyampaikan kalimat pamungkas itu, tapi aku tidak bisa, lebih tepatnya tidak berani untuk melakuannya, aku malu, aku takut. Pikiranku sedang bergumul dengan keinginan yang sudah ku pendam dan aku memilih untuk diam.
“Aku senang bertemu kamu, aku suka dengan penampilanmu yang apa adanya, aku suka dengan gaya kamu yang lucu, aku suka dengan sikap kamu...”
Seketika alunan blues yang romatis tidak terdengar, dan juga para tamu kafe yang lain juga terdengar diam tidak bersuara, yang kudengar hanya kalimat panjang yang keluar dari mulut Morie, aku tidak ingat semuanya, Morie mengucapakannya terlalu cepat. Lalu apa yang harus aku lakukan? Aku diam.
“Aku cinta kamu.” dengan suara yang cukup keras Morie berbicara padaku. Semua terdengar jelas dan aku pasti mengingatnya. Semua ketakutanku terhadap kenginan untuk mengungkapkannya hilang, lenyap, aku tidak berpikir dengan ketakutan yang aku miliki, dan aku mengutarakan kalimat pamungkas itu.
“Sebenarnya aku cinta kamu Morie.”
Aku dan Morie ternyata memiliki rasa yang sama, cinta yang sama.
Lalu Morie menceritakan kesukaan dan ketidaksukaannya, aku juga mulai bercerita mengenai hal yang sama, dan perlahan aku menggenggam tangannya, Morie tersenyum. Obrolan aku dan Morie dihiasi dengan suara tawa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar